ADVERTORIAL


Mengembangkan Emotional Intelligence (EI) pada Anak




Berdasarkan pengertian yang berkembang di masyarakat, bahwa kecerdasan meliputi kemampuan membaca, menulis dan berhitung (kemampuan akademis) merupakan penentu kesuksesan. Padahal sesungguhnya, factor bakat, ketajaman pengamatan social, hubungan social dan kematangan social (Emotional Intelligence) merupakan kunci utama keberhasilan. Penelitian menunjukkan bahwa Intelligence Quotient (IQ) memberikan kontribusi sebesar 20%, sedangkan Emotional Intelligence (EI) memberikan kontribusi sebesar 80%.

Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan atau kecerdasan emosional yang mempengaruhi perilaku anak. Yang termasuk kedalam EI adalah :
1. Pengenalan emosi diri
2. Pengendalian emosi
3. Kemampuan memotivasi diri
4. Kemampuan mengenali emosi orang lain
5. Kemampuan mengendalikan hubungan antar manusia.

Anak dengan ketrampilan emosional yang berkembang baik cenderung lebih bahagia dan mampu menguasai kebiasaan berpikir positif yang bisa mendorong produktivitas mereka. Ketrampilan ini bisa diajarkan orang tua sejak dini, juga tentang kematangan anak (kedewasaan), sebab bila anak sejak dini sudah diajarkan untuk berpikir secara matang, maka anak akan selalu cermat dalam berpikir. Tapi, kecenderungan yang terjadi, orang tua tidak menyadari hal tersebut, dan membiarkan emosi anak berjalan apa adanya tanpa berupaya mengajarkan anak mengenali dan mengendalikan emosinya.

Menurut Rose Mini (2008), hasil penelitian membuktikan otak anak–anak pada usia emas yakni 1-3 tahun mampu menyerap pengetahuan dengan mudah. Bila spons adalah otak anak, stimulasi lingkungan adalah air yang bisa diserap dengan cepat. Akan tetapi banyak orang tua yang tidaklah mendapat perhatian secara khusus pada anak, sehingga banyak sekali orang tua yang membiarkan anak tanpa memberikan pendidikan secara khusus.

Ada beberapa cara untuk mengajarkan anak mengenali dan mengendalikan kemampuan emosinya, diantaranya :
1) Pada usia bayi dan batita (toddler, usia 1-3 tahun) stimulus fisik sangat diperlukan. Dengan membelai, mengajak bicara, menemani bermain, dan mengawasi aktivitasnya, menjadi perangsang untuk mengembangkan kemampuannya. Perilaku seorang anak sangat dipengaruhi oleh pembawaan anak sejak lahir dan begitu bervariasinya faktor lingkungan. Pada masa toddler, faktor lingkungan yang paling penting adalah bagaimana perilaku orang tua sebagai individu yang keberadaanya paling dekat dengan sang anak, dan sebagai orang pertama yang mengenalkan sistem pendidikan sederhana dan informal kepada seorang anak. kedekatan emosional antara anak dengan orangtuanya, perasaan aman yang dimiliki anak, sehingga menjadi dasar perkembangan yang sehat.

2) Biarkan anak bermain dan bergaul dengan anak-anak sebaya di sekitar rumah. Hanya ketika bermain, harus tetap dalam pengawasan orang tua, sehingga ketika anak-anak melakukan hal-hal yang kurang tepat, dapat dilarang dan berikan pengarahan yang benar. Hal ini akan membuat anak menjadi lebih mengenal aturan dan berikap saling menghargai, dan memudahkannya untuk menyesuaikan diri di manapun ia berada, sanggup memecahkan masalah yang dihadapinya. Ia juga mampu belajar dari berbagai sumber.

3) Berikan perhatian secara berimbang, sehingga anak-anak dilatih untuk dapat menerima kekalahan ataupun menerima kenyataan yang tidak menyenangkan, misalnya tidak selalu memenuhi apa yang menjadi keinginannya. Kalaupun anak menangis, karena permintaannya tidak dipenuhi, biarkan saja, karena menangis merupakan usaha untuk mengurangi tekanan yang dirasakan anak. Dengan membiasakan seperti itu, anak menjadi lebih mudah mengendalikan emosi (tidak cengeng atau merajuk).

4) Menjalin komunikasi yang baik dengan menjadikan orang tua sebagai pendengar yang baik. Biarkan anak mengekspresikan pendapatnya sebebas mungkin tanpa harus dipotong atau dinilai orang tua. Mendengarkan yang baik adalah memberikan perhatian yang sepenuhnya dengan melakukan kontak fisik termasuk kontak mata dan reaksi yang tepat untuk menunjukkan bahwa kita mmengerti dengan apa yang disampaikan oleh anak.

5) Jangan malu untuk menunjukkan perasaaan kita di depan anak. Misalnya bila kita sedang sedih, kesal ataupun marah bahk an menangis. Anak perlu melihat reaksi seperti itu, karena anak pun perlu belajar bahwa orangtua juga manusia biasa, dan sama seperti mereka. Dengan kesamaan perasaaan seperti itu, maka anak akan menjadi lebih dekat dan mau terbuka dengan orangtua.

Anak adalah individu yang dilihat tumbuh dengan kepolosan pribadi, kesederhanaan pikiran, dan proses belajar mereka dalam menangkap realitas sosial yang tidak dapat dipaksakan. Proses belajar tersebut adalah perilaku yang sering dilakukan anak adalah perilaku imitasi, selain merupakan proses untuk mengerti dan belajar bagaimana berperilaku, juga proses untuk tumbuh dewasa dengan belajar dari perilaku orang lain.

Ketika bermain, anak biasanya melakukan perilaku imitasi dan peniruan tersebut terjadi karena adanya tokoh idola” yang menarik perhatiannya ketika bermain apakah dalam bentuk fisik maupun segala sesuatu yang melekat pada diri tokoh tersebut. Bahwa seorang anak bukanlah miniatur dari orang dewasa karena seorang anak memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang secara alami. (WS/sumber)



0 komentar:

Post a Comment

ADVERTORIAL

 

Member Of